Tokyo Life dan Hal-hal yang Tidak Seindah di Instastory-ku

Long time no blogging karena bingung masih nulis apa dan masih euforia pindah ke Tokyo (padahal udah empat bulan). And yes, akan share sedikit kisah-kisah kepindahan ke top 10 most expensive city ini.

Jadi, kenapa bisa pindah ke Tokyo?

To be honest, pertama kali trip ke Tokyo memang suka sama kota dan negara ini. Ya siapa sih yang ngga suka sama keteraturan di sini. Tapi ya udah, ngga pernah ada cita-cita unuk tinggal dan kerja di sini. Hingga suatu ketika di tahun 2019 bulan Mei, one of my dearest friend yang udah jadi warga Tokyo sebelumnya menginfokan sebuah lowongan pekerjaan untuk based di Tokyo.

Wow! Masa iya sih ngga dicoba. Ngga ada ngarep berlebihan atau gimana saat apply cuma do the best aja dan alhamdulillah ada rejeki di sini. And long story short setelah beragam proses selesai (visa, urusan resign dari kantor lama, dan beragam hal pusing lainnya) akhirnya Agustus 2019 ku berangkat di tanggal last day di ShopBack haha some people said i was crazy but ya gimana lagi, emang semepet itu kondisinya :’)

Rombongan Haji

Turns out dalam keadaan itu semua rasanya mulai dari excited, deg-degan, sedih, takut, seneng jadi satu dan beneran kayanya excited dan senengnya 70% lebih banyak jadi tidak ada edisi haru biru di airport wkwkkww sampe hari ini nulis pun kangenku ke home town ya udah gitu aja ndak perlu sampe didramatisir wkwk

Jadi sesimple itu sih latar belakang kenapa bisa tiba-tiba pindah ke Tokyo haha beneran ngga ada kepengenan berlebih untuk tinggal di Tokyo, pas jalan-jalan ke sini cuma bergumam “Pasti bakalan ada edisi trip Jepang ke 2, 3, dan selanjutnya karena harus tiap season ke negara ini!” Karena kita semua pun sepakat, negara ini cantik banget dan banyak yang harus diexplor setiap musimnya.

Nah, lanjut ya apa aja yang perlu disiapkan pas pindah ke Tokyo?

Well, ketika dihadapkan pada fakta bahwa harus hidup di salah satu most expensive city  di mana untuk nge-kick start tinggal di kota ini bener-bener memakan biaya yang cukup lumayanan. Meskipun nampak mepet, tapi sebenernya ku sudah reset sana-sini untuk estimasi biaya housing, transport, makan, dan sebagainya.

Hal pertama yang disiapkan terlepas visa adalah duit. Harus tau estimasi setidaknya sebulan pertama buat tinggal di Tokyo dan waktu itu menemukan web Numbeo di mana kita bisa custom kebutuhan kita kaya apa aja dan mereka akan kalkulasi monthly cost-nya berapa.

Dan tentunya dong biar bisa tervisualkan gimana duit-duit itu dibuang, semuanya harus ditulis di sheets/trix untuk pre-departure. At least kita tau pos-pos mana aja yang butuh duit banyak. Kira-kira kaya gini:

Screen Shot 2020-01-04 at 09.15.41
Pre-departure checklist dari sekian banyak poin

Setelah ngitung-ngitung budget yang dibutuhkan, dilanjut hunting housing by online. Oiya first thing first nih ya, buat apartemen di sini gak bisa dibook jauh-jauh hari. Jadi paling setidaknya 1 bulan sebelum kita move in baru bisa kita deal in. Nah case yang terjadi kemarin, ada kenalan yang nyewain kamar di Tokyo dan yaudah memutuskan untuk tinggal di sana temporary satu bulan sebelum nemuin long term apartemen.

Housing dan segala perintilannya

Berhubung anaknya males repot, jadi hunting apartemen udah dimulai sejak di Indo, ini masuk ke checklist pre-departure. Since udah bisa membayangkan repotnya hidup sendirian dan harus isi-isi apartemen, jadi dari awal sudah bertekad cari yang full furnshised. Jadi akhirnya dalam dua bulan ikhtiar mencari via Oakhouse, Oyolife, Craiglist, dan ada beberapa forum di FB yang bisa buat cari-cari apartemen.

Biasanya tahapan cari housing di sini: ketemu yang kita pengen, kontak agent (semuanya akan under agent, jarang bgt langsung ke si ownernya), visit, kalau oke langsung urus kontrak dan bayar ina inu yang mana di sinilah kenapa expensive banget Tokyo punya harga sewa apartemen.

Kebanyakan apartemen harus disewa via agent dan ini bikin harga kick start bisa sampe 3x dari harga sewa bulanan. Jadi ada beberapa komponen biaya yang harus dibayar untuk pertama kali sewa: guarantor fee, insurance, maintenance, lock fee, dan thank you fee. Nah tergantung agent, tapi biasanya komponan di ini udah pasti ada. Jadi kira-kira harga 1 bulan sewa 120,000 yen, dengan adanya biaya lainnya bisa jadi harga awal adalah 240,000-300,000 yen. Belum lagi untuk isi apartemen, kebayangkan how expensive adulting di Tokyo haha.

FYI, case yang kualami karena akhirnya pakai Oakhouse dan nemu yang full furnished jadi ngga ada guarantor fee yang super mahal itu. Jadi bener-bener riset mendalam buat cari yang paling pas di kantong perlu banget!

Rent per bulan 118,000 yen belum sama maintenance

Karena emang udah full furnished jadinya tinggal beli perintilan macem buat dapur dan ini itu buat bebersih rumah. Biasanya paling enak belanja perabot di Nitori karena lumayan banyak cabangnya, sedangkan IKEA ini nun jauh di Kawasaki (kenapa ya IKEA selalu bikin store di pinggir kota), tapii yang paling the best beli perintilan rumah adalah di…… DAISO! Haha emang gak selengkap IKEA atau Nitori tapi bisa belanja tissue pel (di sini ngepel pake tissue basah guys!), pembersih kamar mandi dan lainnya hanya dengan 100 yen!

Move in dan mendaftarkan diri menjadi warlok

Oke, tahap selanjutnya setelah ketibaan lo di Tokyo, bagian imigrasi bandara bakalan langsung kasih lo Residence Card. Pokonya buat siapa aja yang tinggal lebih dari 3 bulan wajib daftar jadi residence di sini dan tentunya biar kalian bayar pajak dong ya! wkwk

Masa berlaku cuma setahun jadi harus renewal tiga bulan sebelum abis

Proses dapetin Residence Card ngga ribet sama sekali, karena udah ada visa kerja di paspor, ketika cek imigrasi si petugasnya bakalan langsung kasih Residence Card. Nah tapi Residence Card ini harus didaftarkan ke ward office di mana kamu akan tinggal.

Menjadi warlok 101 pun dimulai dengan pergi ke ward office, karena sebulan pertama tinggal di Meguro jadi harus daftar di ward office Meguro. Nah karena habis itu diriku pindah ke Setagaya, jadi yang harus kulakukan adalah: ke ward office Meguro buat infoin moving out -> ke ward office Setagaya buat daftarin diri lagi. Oiya batas waktu setelah ketibaan kita di Japan untuk ke ward office tuh cuma 14 hari jadi ini beneran harus diprioritasin. Begitupun kalau kita pindah alamat, harus lapor ke ward office ngga boleh lebih dari 14 hari.

Nah apa pentingnya daftarin alamat lo di ward office? Ngga ini bukan cuma semata-mata KTP tapi dengan lo masuk ward office, lo udah official jadi warga lokal di mana pemerintah lokal akan provide lo insurance, tax card (istilahnya my number card), pensiun, dan beragam hal lain yang memang jadi benefit kita sebagai warga.

Adulting is fun so far in Tokyo until you find out about the tax thing… :))

Di manapun selama kita numpang hidup di dunia ini pasti ngga akan lepas dari yang namanya bayar tax. But di Jepang, mungkin juga di negara maju lainnya, tax is a thing yang bener-bener motong hampir 25% income lo dan wajib banget tahu komponennya apa aja dan apa aja yang bisa kita dapetin dari bayar tax yang super mahal ini.

Nah kebanyakan expat tax diurusin sama perusahaan tempat kerja jadi yang penting kita tau aja breakdown potongan untuk tax. Ada satu web yang cukup detail buat cari estimasi tax yang wajib dibayarkan tiap bulan. Kalo ada yang kepo bisa cek di sini.

Sebagai gambaran kasar, dalam tiap bulan income kita akan dipotong untuk bayar: insurance, pension, income tax, dan residence tax. Sebenernya ini mirip banget lah kaya di Indo di mana gaji kita bakalan dipotong pajak penghasilan dan BPJS. Kalo di Indo “provider” nya beda-beda nah kalo di sini semuanya terpusat.

Oiya residence tax ini dibayar ketika lo udah satu tahun tinggal di Japan, atau baru mulai dibayar ketika jalan tahun kedua tinggal di Japan. Besarannya tergantung tempat lo tinggal, semakin metropolitan, residence tax semakin tinggi. Nah ini sebaiknya dipotong per bulan sama perusahaan/agency karena kalau diakumulasiin dalam satu tahun jumlahnya ya mayanan bikin manyun (besaran tiap individu juga beda tergantung year income).

Iya mahal banget pokonya tax di negara maju, tapiii ada tips biar lo dapet refund tax lumayanan. Yaitu dengan mendaftarkan dependent, bisa daftarin juga dependent yang tinggal di luar Japan. Maksimal dependent yang kita masukin adalah lima orang dan ini bisa dapet tax refund up to 100ribuan yen per dependent dan maksimal 300ribuan yen kalo ndak salah. Pokonya lumayan banget.

Adapun segala dokumen ini lo wajib isi form-nya yang mana semuanya pakai tulisan kanji! Haha kebayang ngga pusingnya ngurusin tax dan isi formnya kanji semua, but kebanyakan perusahaan bantuin isi sih dengan kasih guideline.

Screen Shot 2020-01-04 at 15.48.26
Njelimet ya haha padahal sebenernya simple sih, ini diambil dari web yang jelasin tentang dependent tax form https://indojapanpulse.com/2018/11/filling-up-dependent-form-japan-year-end-tax-process-word-by-word-japanese-to-english-pdf

Jadi tips aja nih buat yang kepingin banget kerja di Jepang, wajib banget tau estimasi tax biar tidaq jatuh misqueen di sini :))

Ngurus ke local bank account

Terpenting sih ini, setelah ngurusin residence card, housing, dan form tax, selanjutnya yang tidaq kalah penting adalah punya local bank account. Selain karena buat gajian, kebanyakan bank di sini punya debit card yang bisa kita manfaatkan tuk belanja online maupun offline.

Ada banyak bank top of mind orang-orang lokal, misalnya MUFG, Mizuho, Japan Post, Sumitomo Mitsui, dan Resona. Tapi diriku malah bikin Shinsei Bank. Kenapa?

Karena kebanyakan top of mind bank orang-orang lokal ini agak kurang dalam layanan kebahasainggrisannya dan berdasarkan penurutan teman, buat buka rekening harus isi form pakai bahasa Jepang dan lo harus pakai hanko (sejenis seal/cap yang menggantikan tanda tangan).

Tapi di Shinsei Bank ini, mereka punya service dalam Bahasa Inggris, daftarnya pun gampang dan mereka punya apps buat transfer lintas negara juga. Mayan internasyenel lah dan cukup direkomendasikan di berbagai web-web expat lyfe.

Fun fact, di sini kalian bisa ambil duit dan masukin duit di semua atm, tinggal dicek aja apakah mesinya compatible sama bank kamu ~

Ber-experience dengan typhoon dan earthquake

Semua orang tau kalau posisi Jepang yang kepulauan cimit-cimit di lepas pasifik jadi tempat langganan typhoon maupun earthquake. Dan yes bener banget, empat bulan di sini udah ngerasain dua kali typhoon heboh dan entah berapa kali earthquake.

Persiapan typhoon 19 kemarin karena semua store bakalan tutup

Deg-degan memang tapi setiap ward udah kasih manual book buat tata cara evakuasi dan sebenernya untuk bencana yg bisa diprediksi, pemerintah sini udah sigap banget kasih woro-woro. Mulai dari stasiun tv, media online, pengumuman via speaker di area rumah hingga kalau udah ada yg lumayan gawat akan dikasih alert by notification di hp.

Dan sebenernya di sini jadi belajar banyak hal gimana warga dan pemerintah sini kalo ngadepin bencana.

Buang sampah di negara maju

Bukan rahasia lagi kalo Jepang terkenal dengan keresikan dan kedisiplinan warganya. Termasuk urusan buang sampah yang bener-bener diperhatikan banget. Sampah botol ngga bisa dibuang sembarangan barengan sampah plastik. Belum lagi harus pisahin combustible dan lo harus tau apa aja yang termasuk combustible daaan yang paling seru adalah kita harus hafalin jadwal buang sampah di daerah kita tinggal.

Ini adalah jadwal buang sampah di tempat area tinggal di Sakurashinmachi – Setagaya City. Jangan sedih, meskipun nantinya akan pindah ke kawasan lain di Setagaya City, akan ada jadwal lain yang harus kita apalin.

Nah bisa dilihat kan pengkategorian sampah. Dan ini beda-beda, lain ward lain lagi ketentuannya.

Paling susah memang buang sampah ukuran besar semacem kulkas, TV, atau sofa. Kita harus bikin reservasi ke ward office dan bayar fee-nya. That’s why, orang di sini kebanyakan melakukan ‘giveaway’ barang yang udah gak dipake, alias dikasih secara cuma-cuma.

Oiya meskipun nampak ribet, tapi cara buang sampah di sini cukup geletakin aja di pinggir-pinggir jalan tempat pos sampahnya sesuai jadwal. Beruntung di deket rumah lokasinya super deket.

Well, kira-kira begitulah living as warlok. Ini baru sebagian kecil, karena semakin lama tinggal di sini semakin banyak cerita njelimet lainnya. However tinggal di negara maju itu nyaman banget dan jadi belajar banyak tentang aturan kehidupan sehari-hari yang bahkan sebelumnya gak pernah kita pikirin.

Jadi, siapa yang masih ngebet tinggal di Japan? ☺️


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s