Coldplay Trip dan Sensasi Menginap di Red District Area

Hellaw, setelah hiatus lebih dari enam bulan tidak blogging (hiatus apa males?) akhirnya i’m back on the track, yay! Di awal April 2017 lalu, mungkin jamaah Al-Coldplayniah akan terus terkenang akan hari itu, gimana ngga, setelah penantian bertahun-tahun dan juga berjibaku untuk dapetin tiket, akhirnya kami-kami ini kesampean juga nonton Mas Chris dan kawan-kawan.

IMG_8638

So it was my first experience nonton konser di luar negeri dan juga perhelatan musik dalam skala segede ini dan luckily karena nonton di negara yang sudah terkenal dengan ketertibannya, all went so smooth. Ngga ada kendala berarti selama proses antri gate-nonton-selesai. Tapi tapi tapi yang seru saat proses booking hotel di mana booking hotel di daerah Jalan Besar dihanguskan karena keteledoran saya ngga bayarin credit card, berujung dengan bookingan hotel angus di h-2 keberangkatan!

Oke, sejatinya kami berencana buat nginep di Bunc Hostel, Jalan Besar, namun terpaksa batal di h-2 keberangkatan karena credit card over limit dan saya ngga ngeh kalo ternyata udah di email sama Agodanya. Terpaksalah cari hotel yang masih available. FYI aja di H-sebulan aja harga-harga kamar udah pada naik dan banyak yang sold out, lah ini gimana kabarnya nyari hotel H-2.

Setelah browsing sana-sini akhirnya dapatlah kami di Hotel 88 dengan budget kisaran yang sama (credit to Nimas yang bookingin ini hotel). Setelah ditelusuri, Hotel 88 ini ada di lor 18 Geylang hehehe. Bukan rahasia lagi kalo Geylang dikenal sebagai Red District-nya Singapore. Dan ternyata Nimas yang bookingin hotelnya ngga tau kalau Geylang adalah kawasan ‘gituan’ wkwk.

Moral of story no.1: Pastiin cc-nya udah pas limit saat tanggal deduction, jangan lupa rajin cek email, kalau perlu pasang alarm untuk tanggal deduction di cc.

Oke long short story, tibalah di hari keberangkatan. Saya dan Uci naik Lion Air CGK-Batam super first flight (nyerah banget liat harga direct flight CGK-SG), kemudian dilanjut ferry ke Tanah Merah dari Nongsa. Sedangkan temen-temen lainnya pada naik direct flight dengan jam penerbangan beda-beda (saking harganya udah ngga karuan mahal). Dan ketahuilan h-1 sebelum keberangkatan, Lion Air CGK-Batam ada drama banyak ninggalin penumpang yang pada telat check in, ditambah salah seorang teman yang berangkat duluan pun ikut ditinggal Lion Air dan terpaksa naik ke jam penerbangan selanjutnya. Belum lagi drama orang-orang yang antri super panjang di imigrasi Ferry Batam Center.

Dengan mengucapkan bassmallah dan keteguhan hati, datanglah hari itu. Sengaja mobile check in sehari sebelum biar ngga kena antri counter dan akhirnya jam 3 subuh sukses duduk manis di boarding room yang ternyata setelah kita udah nunggu 2 jam lamanya, boarding room-nya salah zzzz. Ada perbedaan keterangan di layar informasi sama di boarding pass, untung saya tergerak buat nanya ke mba-mba petugas bandara, ngga jadi deh ketinggalan pesawatnya, mana ngga ada pengumuman apa-apa pula.

Moral of story no. 2: Kalo terpaksa naik Lion Air, harus rajin-rajin tanya update ke petugasnya, mau itu delay, atau soal boarding room. Pokonya tanya.

Dan hamdallah apa yang ditakutkan ternyata tidak terjadi, tanpa delay dan mendarat dengan mulus di Hang Nadim, Batam jam 8 pagi. Rencananya kami bakalan lanjut ferry dari Nongsa, which is jaraknya lumayan jauh dari bandara. Beruntunglah Uci punya kenalan driver di Batam dan bisa jemput kami buat antar ke Nongsa.

Oiya tips yang mau ke SG via Batam, lebih baik berangkat dari pelabuhan Nongsa, memang agak jauh tapi ngga pake antri, imigrasi maupun beli tiket. Dan buat tiket Ferry udah bisa dibeli via online. Nongsa ini adanya di area resort, jadi mostly yang berangkat via terminal ini adalah turis-turis asing, kemarin sih barengan sama turis Korea dan China.

IMG_8568(1)

Nongsa Ferry Terminal

Plan awal mau naik ferry yang jam 10, karena ngga setiap jam ada keberangkatan ke SG, buat detail jadwal dan pemesanan bisa langsung cek di sini. Karena jalanan lancar dan sampai di Nongsa masih ada keberangkatan jam 9 pagi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung naik. Nah meskipun kita udah beli tiket online dengan jadwal keberangkatan misalnya jam 10, nah kalau masih ada slot, bisa banget buat mindahin jadwal ke yang lebih cepat atau bahkan lebih lama.

IMG_8569(1)

Menurut teman yang tinggal di Batam, paling rocommended naik Batam Fast, karena armadanya masih bagus-bagus. Ini mirip ferry HK-Macau sih kurang lebih.

Oke jam 9 teng mulai melaju, memakan waktu sekitar 50 menit untuk sampai di Pelabuhan Tanah Merah. Cuaca yang bersahabat bikin perjalanan makin syahdu sambil dengerin gosip kantor temen #eaa. Jam 10 kurang kapal berlabuh di Tanah Merah Ferry Terminal, nah di sini antrian imigrasi lumayan panjang karena ternyata pemeriksaan imigrasi di border sini cukup ketat, ngga biasanya lewatin imigrasi sampe dimintain KTP segala.

IMG_8573

Imigrasi Tanah Merah, lumayan sekitar 20 menit-an buat antri.

Setelah selesai urusan di imigrasi, kami pun lanjut ke kawasan Geylang. Dari Tanah Merah Ferry Terminal, buat sampe ke MRT station Tanah Merah, kami cuma perlu naik bus yang lewat setiap 2 menit. Lanjut ke statsion Aljuneid untuk sampai ke Hotel 88 Lor 18 Geylang.

IMG_8576

Depannya Tanah Merah Ferry Terminal

Berhubung jam check in masih lumayan lama, maka kami memutuskan buat cari makan siang.Nah menurut salah seorang #GeylangBabes, ada makanan seafood yang enak namanya, No Sign Board Seafood, mungkin kalo di Indo-in kaya Rumah Makan Tanpa Nama wk. Lengkapnya tentang No Sign Board bisa cek di sini.

Standar seafood harganya emang cocok buat makan tengah, karena saya cuma berdua jadilah cuma pesan Ayam Lemon yang ada kacang mede-nya (lupa namanya) dan sayuran sejenis kangkung. Ayamnya enak banget sih, porsinya banyak sampe masih bisa bungkus buat sarapan besoknya (budget hotel, ngga ada sarapan).

Tips: Ajak teman ramean buat makan tengah di sini, kalau siang restonya masih sepi, kalau malam rame banget-banget. Ke sini bisa turun di Aljuneid MRT Station.

Dari sini, jalan sekitar 300 meter buat sampe ke Hotel 88, berhubung datangnya siang hari, jadi belum terlalu keliatan aktifitas ‘gituannya’ haha. Hotel 88 ini ternyata punya branch banyaaaaak banget, bahkan di Geylang hampir nemuin sekitar 5 Hotel 88 di lor berbeda-beda.

IMG_8580(1) - Copy

Cukup nyaman walaupun berada di tengah Red District

Untuk ukuran kelas budget, Hotel 88 ini cukuplah masuk di kantong anak-anak backpackeran, harga per malamnya Rp 450ribu dengan faslitas twin/double bed, private bathroom, amenities, tanpa breakfast. Harganya ngga jauh beda dengan Bunc Hostel, di mana untuk hostel kita harus sharing bathroom. Jadi Hotel 88 ini cukup best deal untuk yang mau cari private room hotel di Singpore. Review di TripAdvisor bisa jadi pedoman sebelum booking Hotel 88.

IMG_8581(1)

IMG_8582

Untuk standar budget hotel, kamarnya sih super nyaman

The downside soal Hotel 88 ini ya karena letaknya bener-bener di tengah-tengah bisnis Red District, di mana kalau udah mulai sore banyak uncle-uncle di teras rumah-rumah kecil. Sedangkan kalau udah lewat jam 11 malam, banyak mba-mba dijejerin di pinggir jalan (ngga sempet foto, takut sama uncle-nya). Belum lagi kemarin sekitar jam 4 pagi gitu ada berisik-berisik uncle-uncle yang entahlah habis ngapain. So, this hotel is not baby and family friendly actually. Tapi mungkin bisa cari Hotel 88 di kawasan lain yang sama murahnya (Hotel 88 udah kaya Indomaret anyway, tiap area turis di SG pasti ada).

Moral of story no.3: Menginap di kawasan Red District ini fine-fine aja, tipsnya gausah bawa keluarga atau anak kecil. Kalau mau balik malem mending jangan sendirian lewat gang-gang di Geylang, karena beberapa ruas agak sepi.

Lanjut ke soal nonton Coldplay, ternyata hotel tempat kami menginap ini cuma 1 kilo jaraknya ke Singapore National Stadium. Yang tadinya kami mau jalan kaki ke venue dan ternyata hujan, akhirnya order uber dan cuma kena sekitar 4 SGD saja.

IMG_8596(1)

Stadium-nya kece badai

Datang dua jam lebih awal ke venue ngga ada ruginya, karena temen-temen yang di kelas standing bisa langsung antri, sedangkan yang kelas duduk manis bisa belanja makanan dulu di area supermarket di National Stadium. Berhubung konsernya baru mulai jam 7 malam, akhirnya kami memutuskan buat bekel bakpao biar ngga kelaperan. Sedangkan temen-temen kelas standing berjuang sambil hujan-hujanan biar bisa front row~

IMG_8584(1) - Copy

Coldplay Squad

Konsernya sendiri berlangsung on time, tertib, seru, dan menyenangkan. Semuanya sih dijamin susah move on kalau udah liat langsung konsernya Coldplay. Long short story, dua jam dihabiskan dengan penuh kekaguman, mulai dari lighting yang seru abis dan juga aksi panggung Chris Martin yang kayanya ngga ada capenya.

IMG_8612(1)

IMG_8622(1) - Copy

kelas duduk manis dengan zoom maksimal

Bubaran konser, janjian sama teman-teman dan memutuskan balik jalan kaki sambil cari makan malam. Ternyata banyak juga yang nginep di area Geylang dan mostly sih orang-orang dari Indonesia. Mungkin sekian kisah perjalanan naik haji ke konser Coldplay. Selanjutnya bakalan bikin ulasan soal Tiong Bahru yang katanya sih lagi hits di kalangan pemuda pemudi Singaporean. See you di catatan perjalanan selanjutnya and happy holiday~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s