Indahnya Kematian di Tana Toraja

photo 5

Kete Keshu yang jadi tempat nongkrong alay toraja :/

Semua orang tau kalau di Toraja memiliki adat pemakaman yang tidak biasa. Mulai dari ritual membangunkan mayat, menguburkan di gua, hingga kuburan tebing. Semua dilakukan atas kepercayaan  bahwa kematian bukan akhir segalanya. Sanak saudara yang mati artinya memiliki kehidupan baru di nirwana mereka. Oleh sebab itu orang Toraja mengganggap kematian harus dirayakan dengan beragam pesta adat.

Bulan November lalu akhirnya saya kesampean pergi ke Toraja. Namun sayangnya ketika saya datang sedang tidak ada upacara kematian yang konon katanya bisa berlangsung hingga satu minggu. Dan karena jadwal padat tapi cuma punya cuti dua hari, akhirnya kami pun memutuskan untuk one day trip saja di Toraja.

How to get there

Toraja bisa dicapai dengan jalan darat dan udara. Kalau udara kita harus transit di Hasanuddin terlebih dulu. Infonya bisa klik disini.

Trip kemarin saya memilih jalur darat yang memang cocok di kantong. Pilihannya dengan naik bus dari Kota Makassar. Banyak armada yang melayani Makassar-Toraja ada Litha, Bintang Prima, Megatrans, dan lainnya. Masing-masing armada pun menyediakan beragam kelas mulai ekonomi, eksekutif, hingga super eksekutif.

Kemarin saya memilih menggunakan PO. Litha dengan keberangkatan pukul 09.00 malam dari Makassar. Saya menaiki kelas eksekutif dengan tarif 120 ribu dengan fasilitas reclining seat, selonjoran kaki, dan selimut. Lebih dari nyaman kalo menurut saya. Bisnya pun on time.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 8 jam dengan rute Makassar – Maros – Pare pare – Enrekang, Rantepao (Toraja). Untuk perjalanan weekend ada baiknya reservasi tiket sehari sebelum bisa melalui telfon 0411-324847.

What to do

Sesampainya di Toraja, bus Litha yang kami tumpangi berhenti di Rantepao, pusat kota di Toraja. Tiba pukul 05.30 tentunya masih sedikit aktivitas di Rantepao. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat singgah dan rental motor.

Sayangnya masjid yang rencananya mau kami jadikan tempat singgah masih belum buka. Untungnya kami bertemu seorang bapak yang akhirnya mengajak kami ke guest house untuk istirahat sejenak. Lumayan untuk kopi toraja dan teh hangat di pagi hari.

Bagi yang mau mencari rental motor, banyak berjejer di sekitar lapangan bola. Kalau dari tempat turun bus jaraknya tidak terlalu jauh. Harga standar sewa motor sekitar 70 hingga 90 ribu tanpa bbm. Jangan lupa meminta peta wisata Toraja ke abang penyewa motornya. Ini cukup membantu selama di sana.

Where to go

Secara garis besar, urutan objek wisata yang kami kunjungi adalah Lemo – Londa – Kete Keshu – Batu Tumonga – Kampung tenun Sa’dan. Sedangkan Rantepao sendiri berada di antara Kete Keshu dan Batu Tumonga.

Lemo, jaraknya sekitar 10 kilo ke arah terluar Rantepao. Ini merupakan kuburan di tebing. Peti -peti jenazah diletakkan di tebing batu, hanya ada beberapa peti yang terdapat di Lemo.

photo 4

Komplek Kuburan Lemo

Setelah Lemo, kami lanjut ke Londa. Ini merupakan pemakaman di dalam goa di mana peti-peti digeletakkan begitu saja di celah dalam goa, bahkan beberapa ada yang diletakkan di luar goa. Selain di dalam goa, ada pula pemakaman di tebing. Bagi mereka yang wafat dan memiliki gelar adat tinggi, akan dimakamkan di tempat yang lebih tinggi pula.

Kami ditemani seorang guide lengkap dengan lampu petromak. Karena masih pagi maka pengunjung Londa masih sepi. Saran saya sih jangan siang-siang karena goa yang cukup sempit ini akan semakin penuh kalau sudah siang.

Setelah Londa, kami meneruskan ke Kete Keshu. Di sini kita bisa lihat satu kampung yang memiliki rumah tongkonan tua. ada sekitar 7 tongkonan yang fungsinya beragam.

Selain Tongkonan kita juga bisa ke kampung kuburan yang letaknya di samping komplek Kete Keshu. Di sini rata-rata yag dimakamkan sudah sekitar puluhan bahkan ratusan tahun. Yang tersisa hanya tulang belulang yang berserakan.

Habis dari Kete Keshu, kami rehat sejenak. Jangan lupa beli tiket bus untuk pulang. Biasanya agen bus baru buka sekitar jam 9an.

Oiya masalah makan, di sini memang harus sedikit picky karena makanan bebong banyak dimana-mana. Tapi jangan takut, banyak juga rumah makan dengan embel-embel ‘muslim’ yang bisa ditemui di sepanjang Rantepao. Tapi jangan kaget kalau harganya memang wow. Kemaren kami makan sop dan ayam goreng harganya 40 ribu. :/

Setelah makan siang, kami lanjut ke Batu Tumonga. Nah ini merupakan objek yang paling jauh. Jaraknya 20 kilo dengan medan menanjak bukit, berkelok, dan aspal yang kadang mulus kadang tidak.

photo 2(1)

Peti yang diletakkan di dalam Goa Londa

Dari Batu Tumonga kita bisa melihat Toraja dari ketinggian, kita juga bisa lihat pemakaman di dalam batu-batu besar. Di Batu Tumonga pun terdapat baby grave, yang sayangnya kami ngga sempat ke sana.

Kalau mau ke Batu Tumonga pastikan kondisi kendaraan oke, selain itu lebih baik datang saat siang hari dan turun sebelum sore.

Setelah puas menikmati keindahan alam Toraja, kami pun meluncur lagi ke Kampung Tenun, Sa’dan. Letaknya tak sejauh Batu Tumonga. Di sini kembali kita disuguhkan dengan komplek Tongkonan.

Di Sa’dan kita bisa melihat proses menenun dan kain beragam motif yang harganya mulai dari 150 ribu hingga 10 juta rupiah. Tenun yang kita temukan benar-benar tenunan handmade makanya jangan heran kalau harganya selangit.

Sekitar pukul 4 sore kami meluncur ke masjid di Rantepao untuk istirahat sejenak sebelum mengembalikan motor pada pukul lima.

photo 1(3)

Tenun Toraja jutaan rupiah di Sa’dan

Oiya bagi yang mencari oleh-oleh, bisa di toko-toko sepanjang jalan Rantepao di dekat agen bus. Atau bisa juga di toko souvenir di tempat wisata, karena harganya juga sama-sama saja.

Setelah mengembalikan motor, kami berjalan mencari tempat ngopi sore sambil menunggu waktu keberangkatan bus pukul 9 malam. Akhirnya kami pun singgah di Parirak, warung kopi sekaligus kos-kosan yang bisa kita tumpangin kamar mandinya. 😀

Jam setengah sembilan jalan kaki menuju pul bus Litha. Setelah beli oleh-oleh langsung naik bis, jam 9 tepat kami meluncur balik ke Makassar.

Akhirnya kami pun berhasil menaklukkan Toraja dalam satu hari. Tapi kalau ingin menginap, banyak hotel dan guest house di sekitaran Rantepao. Sekian cerita sehari di Toraja, semoga bisa kembali lagi liat upacara kematian mereka. Salam jalan jalan!

Budget trip klik di sini

Advertisements

4 thoughts on “Indahnya Kematian di Tana Toraja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s