Weekend Trip Makassar – Toraja – Tanjung Bira

Di hampir ujung tahun 2013 saya dapet tiket promo AirAsia yang membawa saya dan tiga teman terbang ke tanah Sulawesi. Tujuan utamanya adalah Tana Toraja di Sulawesi Selatan yang mana kami harus menuju Makassar dulu sebelum sampai di Toraja.

Flight promo super pagi Tiket CGK-UPG dibooking sekitar bulan Juni (empat hari setelah balik trip SG KL :p) kemarin dengan harga PP 420ribu an. Harga yang cukup murah sih untuk terbang di tahun yang sama.

Apa Kareba Makassar?!

Apa Kareba Makassar?!

Berangkat flight paling pagi jam 6.25 dari Jakarta berharap bisa mengejar waktu sarapan di Makassar, tapi ternyata kemarin sempet delay dan akhirnya makan siang di Makassar.

Sampai sekitar pukul 11 WITA kami dijemput teman yang tinggal di Makassar. Doi membawa kami ke kawasan Jalan Nusantra untuk mencicipi kuliner “wajib coba”, Coto Nusantara.

Selesai santap siang, kami meluncur ke kawasan “wajib datang” kalau ke Makassar. Apalagi kalau bukan Pantai Losari. Tujuan utamanya apalagi kalau bukan mengambil foto dengan signature pose ” TAI LO “.

Puas foto-foto di Losari, kami lanjut ke Fort Rotterdam yang jaraknya tak jauh dari Pantai Losari. Di sini kami disuguhi pemandangan bangunan bergaya Belanda dan tentunya benteng yang dibangun semasa Kerajaan Gowa Talo.

Biarpun masuk gratis, bangunan di kawasan Fort Rotterdam bersih dan tampak terawat meskipun kalau sore dijadikan tempat kongko anak-anak sekolah setempat. Too bad ngga ada guide yang nemenin kami berkeliling jadi kami cuma foto-foto aja.

salah satu bangunan di Fort Rotterdam

salah satu bangunan di Fort Rotterdam

Hari beranjak sore kami pun memutuskan untuk mencari cemilan “wajib coba” Makassar yang memang terkenal dengan kota kuliner maha ada. Maka dari itu meluncurlah kami mencari pisang ijo, kuliner khas Makassar.

Selama ini jajan pisang ijo cuma sebatas di gerbang kampus yang pisang ijonya sudah dimodifikasi. Kali ini saatnya icip pisang ijo original. Kami pun dibawa ke Pisang Ijo Megaria, lupa di jalan apa.

Pisang Ijo original ternyata ngga pakai kacang ataupun meses. Hanya ada pisang diijoin, bubur sumsum, es, dan sirup merah DHT yang khas Makassar. Satu porsi pisang ijo bisa bikin kenyang bodoh. Tapi nyatanya kenyang bodoh pisang ijo cuma sesaat, karena kami lanjut icip jajanan khas lainnya, Jalangkote.

Namanya lucu ya, tapi ternyata Jalangkote adalah pastel mirip pastel mak cik. Yang paling hits adalah Jalangkote La Sinrang. Di sini kita bisa icip Jalangkote sambil duduk duduk lucu. Meskipun biasa tapi boleh lah masuk di list “wajib jajan” Makassar.

Setelah fix merasa kenyang bego kami pun memutuskan untuk menyudahi jajan sore dan meluncur ke rumah Bebey (teman Baw yang jadi teman kami yang sangat membantu selama di Makassar dan Tanjung Bira..).Kami numpang mandi dan siap siap re-packing untuk ke Toraja.

Off we go to Toraja!

Tepat jam 9 kurang 5 kami sampai di perwakilan bus Litha yang ada di Urip Sumoharjo. Inilah bus yang akan membawa kami mengarungi 8 jam menuju Toraja.

Makassar-Toraja

Makassar-Toraja

Tiket bus kami pesan sehari sebelum, tiket untuk kelas eksekutif (ac, selimut, reclining seat, sandaran kaki) harganya 120 ribu. Berangkat pukul 8 dan jam 9 malam.

PO Litha ini paling direkomendasi para traveler yang sudah pernah ke Toraja. Bus berangkat tepat pukul 9 malam. Jalur yang dilewati Makassar-Maros-Pare Pare – Sidrap- Enrekang-Rantepao, Toraja. Medan jalannya sepanjang Makassar sampai Enrekang mulus dan ngga berkelok kelok, barulah dari Enrekang sampai Toraja jalanannya bikin mabuk darat. Kalau yang ngga kuat lebih baik cemil antimo.

Pukul 5.30 kami sampai di Rantepao. Ala ala turis hilang arah kami sempet bingung mau ke mana. Yang penting cari penyewaan motor. Di tengah keblah blohan kami tiba tiba datanglah bapak paruh baya yang habis lari pagi.

Sebutlah Bapak Anok ( sampe skrg ngga tau nama aslinya) dia ngotot banget nawarin sewaan mobil yang dibalas dengan ngototnya isan untuk nyewa motor aja. Si bapak yang masih keukeuh itu akhirnya nemenin kami ke masjid yang ternyata masih tutup. Alhasil dia yang masih ngotot nawarin mobil ngajak kami ke homestay sodaranya untuk istirahat.

Dasar orang kota yang kebanyakan skeptis selalu takut dan ragu ragu sama orang lokal yang emang beneran mau bantu kita. Sampai homestay kami disuguhin kopi toraja dan teh hangat. alhamdulillah πŸ™‚ Kami juga jadi bisa cuci cuci ke air dan bahkan si bapak juga manggilin orang yang suka nyewain motor dan bahkan dia tawar harga 90 ribu jadi 50 ribu. Yaaa keless itu sih jelas si masnya langsung bete mukanya.

Akhirnya kami deal dengan harga 70 ribu tanpa bensin. Berbekal peta yang dikasih mas penyewaan motor, kami pun meluncur ke titik terjauh selatan dari Rantepao.

Kawasan Lemo menjadi kawasan pertama yang kami kunjungi. Sekitar 11 km dari Rantepao. Setelah Lemo, kami menuju Londa, pemakaman di sebuah goa. Jaraknya sekitar 5 km dari Lemo. Di sini kami ditemani guide yang membantu membawa lampu petromak ke dalam gua.

Setelah dari Londa, kami meluncur ke Kethe Kesu. Di sini kita bisa melihat Tongkonan tua dan juga kampung kuburan. Puas berkeliling di Kethe Kesu, kami istirahat makan siang di warung makan yang ada tulisan “khusus muslim” karena memang makanan halal agak jarang di Rantepao.

Oiya jangan lupa beli tiket bis balik ke Makassar. Biasanya tempat jual tiket buka jam 9an, lokasi masing masing PO bus tersebar di sepanjang Rantepao.

photo 1(1)

Kethe Kesu!

Usai santap siang, kami pun tancap gas lagi menuju Batu Tumonga. Jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 22 km dengan medan jalan berliku menanjak dan aspal yang kadang rusak. Di Batu Tumonga kita bisa melihat Tana Toraja dari ketinggian. Waktu terbaiknya siang hari dan ketika tidak hujan.

Dari situ kami lanjut ke kampung tenun, Sa’dan. Jaraknya tak sejauh ke Batu Tumonga. Di sini kita bisa melihat para perajin tenun dan tentunya kain kain indah dengan harga jutaan rupiah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kami pun memutuskan kembali ke Rantepao menuju masjid untuk istirahat sejenak. Jam 5 setelah bobo mini di masjid kami mengembalikan motor sambil mencari tempat menunggu sampai jam 9 malam.

Akhirnya dapetlah tempat ngopi lucu sambil makan malam, namanya Parirak yang punya anak muda gitu. Lumayanlah sambil makan bisa cuci cuci juga.

Jam delapan lewat kami jalan menuju pul bus Litha, di samping pul bus banyak yang jual souvenir oleh-oleh jadilah kami sekalian membeli buah tangan sebelum pulang. On time lagi jam 9 si bus udah jalan, sampai Makassar jam 5.30.

Tanjung Bira Ji!

Sampai di Makassar kami meluncur sarapan, lanjut siap-siap menuju Tanjung Bira. Sekitar jam 1 siang perjalanan menuju Tanjung Bira dimulai. Dengan menggunakan mobil sewaan (250/hari tanpa supir dan bensin) rute dimulai dari Gowa, lanjut Takalar – Janeponto – Bantaeng – Bulukumba – Tanjung Bira. Kondisi jalanan mulus dan lurus.

Selama kurang lebih 6 jam perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang subhanallah keren. Hamparan sawah, laut di sisi jalan, sampai sapi dan kuda yang merumput di tepian jalan.

Sekitar pukul 6 sore kami sampai di Tanjung Bira. Berhubung bukan weekend jadi Tanjung Bira ini sepi, bahkan tadinya kami mau menginap di “Salasa” pemiliknya lagi ngga ada di tempat dan atas dasar kepercayaan kami disuruh ambil kunci dan buka kamar sendiri. Tapi akhirnya kami mencari homestay lain.

Lagi lagi atas bantuan Daeng Bebey, kami mendapatkan homestay seharga 200ribu dengan fasilitas AC, twin bed, tv lcd, dan wc dalam. Namanya Saka Beach.

Setelah fix tempat nginep, kami pergi mencari tempat makan malam. Nah di Tanjung Bira ini kebanyakan warung cuma jual mie dan makanan standar. Setelah gugling kami pun meluncur ke Bamboo, letaknya di dekat Sunshine homestay.

photo 2(1)

Bira Beach

Di Bamboo menjual aneka seafood, katanya ini memang tempat makan yang hits di Bira terbukti isinya bule-bule semua. Selesai itu langsung ke penginapan, kami juga sudah membooking kapal untuk snorkelling besok di Liukang Loe.

Tiga hari belum ketemu kasur, akhirnya malam itu kami bobok asik. Tidur cepet karena besoknya mau liat sunrise dan snorkelling tentunya!

Jam 5 pagi kami udh siap mencari spot sunrise. Jangan ngarep bisa liat sunrise di Pantai Bira, karena pantainya ngga menghadap timur. Setelah tanya orang sekitar, kami pun meluncur ke pelabuhan. Daan benar saja, dari pelabuhan kita bisa liat sang surya terbit secara sempurna.

photo 4

Sunrise view from Pelabuhan Tanjung Bira

Dari situ kami lanjut ke Pantai Bara, agak blusukkan sekitar 5 kilo deh. Tapi harus kesana sih awesome banget pemandangannya apalagi kalau dateng bukan hari libur serasa pantai sendiri.

Jam 9an kami dijemput bapa yang mau anter kami ke Liukang Loe. Harga sewa kapal 300 ribu termasuk dua alat snorkelling, kalau alat snorkelling saja sewa 20 ribu. Kami snorkelling di sekitaran Liukang Loe, pemandangan bawah laut ternyata ngga kalah seru, banyak nemo lucu dan terumbu yang indah. Kami juga sempet mampir ke Liukang Loe, pulau di ujung Sulawesi Selatan yang cuma dihuni 300an orang.

Oiya kalau mau ke Bira lebih baik jangan weekend atau liburan karena biasanya pantainya rame. Kemarin kami datang hari Selasa, sepi serasa punya pulau dan laut sendiri.

Kira-kira gitu deh itinerary selama di sana, siang jam 1 kami langsung cuss ke Makassar karena masih mau kuliner dan belanja oleh oleh. Rabu subuhnya kami cuss ke Jakarta flight 4.30 pagi buta.

Thank you buat Bebey yang banyak membantu kami, Nunu atas info rental mobil pak yusuf, juga om dan tante Wita atas tumpangan semalamnya! Terimong gaseong~ Cerita detil Toraja dan Tanjung Bira nanti di share di artikel sendiri deh ya. πŸ™‚ Salam jalan jalan!

*rincian biaya bisa diliat di sini

Advertisements

7 thoughts on “Weekend Trip Makassar – Toraja – Tanjung Bira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s