BROMO

Ke Bromo memang keinginan sejak lama. Dengan mamanfaatkan long weekend di bulan November 2012, saya pun berangkat ke Bromo bersama mommy dan sohibnya.

Menumpang Kereta Sembrani dari Stasiun Gambir pada pukul 8 malam, kami pun sampai di Stasiun Pasar Turi, Surabaya 12 jam kemudian. Masih berkostum kantoran, saya pun bergegas menuju rumah Om di kawasan bandara Djuanda untuk istirahat.

Sehabis beberes,sarapan, mandi, kami pun lanjut packing bersiap-siap menuju Bromo. Yeay!

Cuaca Surabaya di bulan November sedang terik-teriknya. Baru sepuluh menit mandi, keringat sudah muncul lagi. Namun hal itu tidak ditemukan sesampainya saya di Cemoro Lawang.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dengan rute Surabaya – Tongas – Cemoro Lawang, kami tiba di sambut hujan dan kabut disegala penjuru.

Kami menginap di Hotel Cemara Indah yang letaknya bersebelahan dengan lautan pasir. What? ya memang, dari kamar hotel saja kita sudah bisa menikmati Gunung Bromo, Batok dan kawan-kawan.

Pada musim liburan, standart room double tarifnya 400 ribu per malam. Cukup nyaman karena dilengkapi water heater (meskipun suka ngadat) dan jarak yang sangat dekat dengan penajakkan juga lautan pasir.

Jadi menurut saya hotel ini cukup recommended bagi yang ingin bermalam di kawasan Bromo.

_MG_7999

Setelah check in, kami pun memutuskan untuk mengistirahatkan badan. Dengan kondisi sehabis hujan, sudah pasti jangan ditanya lagi seperti apa hawa di sana. Makanya selain bekal jaket tebal, kita juga harus membawa kaus kaki agar semakin hangat.

Pagi pukul 4 dini hari, suara raungan mesin lalu lalang. Ratusan jeep hartop sudah wara-wiri mengantarkan turis ke penanjakkan untuk melihat sunrise. Kami pun menumpang jeep merah yang sudah kami booking pada malam hari.

Untuk menuju penajakkan saja, tarifnya sebesar 250 ribu. Hartop ini muat hingga 8 orang.

Tidak sampai 10 menit, kami pun sampai di penajakkan. Karena kami berangkat cukup siang (sekitar pukul 5) maka parkiran pun semakin bawah. Akibatnya kita harus effort lagi jalan kaki menuju spot penanjakkan. Kita juga bisa menumpang kuda dengan tarif 100 ribu pp atau ojek 50 ribu (tapi tidak sampai puncak).

Saya memilih menggunakan kuda untuk sampai penanjakkan. Meskipun bukan penanjakkan puncak, namun dari tempat saya berdiri sudah bisa mendapatkan landscape yang sempurna. Langit biru, lautan pasir, Gunung Bromo, Gunung Batok, juga Semeru.

Ratusan pengunjung yang menanti sejak subuh akhirnya bisa menyaksikan sang fajar di ufuk timur. Kalau sudah begini yang bekerja adalah lensa-lensa untuk mengabadikan momen indah.

vromo

262033_10200119943829152_959264715_n

Puas mengabadikan sunrise, kami pun bergegas menuju lautan pasir, bukit teletabis, dan tentunya Gunung Bromo. Masih menumpang hartop yang sama kami pun langsung menuju kawasan savana atau bukit teletabis.

Tiba di savana, kami disambut dengan hijaunya rerumputan dan birunya langit pagi itu. Sudah banyak wisatawan yang tiba di sana.Banyak yang mengabadikan keindahan alam pagi itu, banyak pula yang sekedar berjalan menuju bukit.

601403_10200119952949380_523131427_n

Sehabis berfoto-foto di padang savana, kami pun melanjutkan ke pasir berbisik. Konon katanya jika tertipu angin, pasir-pasir ini akan bersentuhan dan menimbulkan bunyi seperti berbisik. Tapi sayangnya saat itu tak ada angin jadi kebenarannya tidak bisa saya buktikan.

Setelah itu, mas supir jeep pun mengarahkan hartop yang kami tumpangi ke arah lautan pasir . Di sini puluhan bahkan ratusan jeep sudah berjajar. Mereka mengantarkan turis-turis yang hendak menuju Gunung Bromo. Termasuk saya.

Jarak antara tempat parkiran dengan penanjakkan lumayan jauh, saya pun menggunakan jasa kuda dengan tarif 100 ribu pp. Kami diantarkan hingga menuju anak tangga. Di sini banyak kuda-kuda parkir mengantarkan para turis yang ingin ke puncak.

Untuk menuju puncak Gunung Bromo, kita harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dulu. Kala itu sedang musim liburan, sehingga kita harus sabar-sabar antri untuk menuju puncak.

Hampir 15 menit menanjak, saya pun tiba di bibir kawah Gunung Bromo. Sungguh indah pemandangannya. Ratusan jeep dan kuda nampak seperti butiran debu ( :|) begitu pula Pura Agung yang ada di tengah-tengah lautan pasir.

531127_10200120058112009_602843067_n

602398_10200120051711849_3855142_n

Semua usaha, mulai dari bangun pagi, jalan menuju penanjakkan dan menaiki anak tangga terbayar dengan indahnya Bromo pagi itu. Sesuai dengan ekspektasi saya datang ke Bromo. Birunya langit, putihnya awan menambah sempurna perjalanan kami. Tapi yang pasti saya akan kembali lagi ke Bromo suatu hari nanti.

486273_10200119944669173_196694479_n (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s