Yuk ke Tidung

Sebenarnya kita traveling ke Tidung tahun 2010, postingan ini sebelumnya dimuat di satu jejaring sosial yang kemudian di migrasikan kemari. selamar membaca!

Siapa yang tidak kenal Pulau Seribu? Ya, gugusan kepulauan di utara Jakarta ini memang sudah lama dijadikan sasaran wisatawan dari berbagai daerah maupun negara. Kami pun akhirnya menjadi salah satu korban penasaran dari keelokkan salah satu pulau yang berada dalam wilayah Kepulauan Seribu. Pulau Tidung. Mungkin akhir-akhir ini banyak orang menyebut-nyebut Pulau Tidung, namun ada pula yang masih keheranan mendengar nama Pulau Tidung.

Sekitar akhir Mei kemarin, kami merencanakan untuk berlibur ke tempat yang ada lautnya, ada pantainya, ada sunset atau sunrisenya, tapi dengan budget yang murah. Dari informasi sana-sini,Pulau Tidung cocok untuk tipikal liburan yang kami mau. Akhirnya kami berenambelas sepakat untuk menyambangi pulau tersebut.

Kami datang dari berbagai penjuru daerah, alhasil kami menentukan satu titik temu di Jakarta. Dan terpilihlah kediaman Fiyan di Cempaka Putih sebagai tempat transit kami. Tidak hanya sekedar transit,tapi juga untuk mempersiapkan keberangkatan ke Pulau Tidung keesokan harinya. Kapal yang mengangkut penumpang ke Pulau Tidung hanya tersedia pada jam 07.00 pagi saja. Kapal tersebut biasa bertolak dari pelabuhan Muara Angke. Perjalanan Muara Angke-Pulau Tidung ditempuh dengan lama waktu tiga jam. Dan kami pun larut dalam euforia perjalanan laut bersama ombak-ombak Laut Jawa yang cukup bersahabat.

Bagi para “pemabuk” mungkin duduk-duduk di bagian atas kapal tanpa penutup bisa memberikan sensasi tersendiri,menghirup angin laut sambil melihat pemandangan atau bisa juga minum antimo lalu terlelap dengan ayunan ombak Laut Jawa.

Tiba di Pulau Tidung, jangan heran jika berjumpa dengan sampah-sampah mengambang di perairan dermaga, karena memang katanya Pulau Seribu kerap kedatangan berton-ton sampah dari berbagai muara sungai yang terbawa air laut. Sayang sekali.

Kedatangan kami disambut seorang guide titisan Bapak Muridun. Pak Muridun, seorang guru sekolah menengah yang juga melayani para wisatawan yang ingin berlibur di pulau ini. Pak Muridun menawarkan penginapan, sewa alat snorkeling, sewa sepeda, dan kebutuhan makan selama berlibur. Sangat disarankan untuk booking penginapan dan lainnya paling tidak tiga hari sebelum keberangkatan.

Kami berenambelas, menyewa sebuah rumah dengan fasilitas 3 kamar AC, 2 kamar mandi dalam,ruang tengah, dispenser, dan kipas angin. Rumah yang kami sewa cukup untuk 20 orang. Per malamnya kami dikenai biaya Rp.600 ribu. Meskipun jauh dari Jakarta, tapi hawa di Pulau Tidung sama panasnya dengan ibu kota. Maka, mengeluarkan kocek lebih untuk kamar ber-AC menjadi tidak sia-sia.

Transportasi utama Pulau Tidung adalah sepeda. Jarak antara pemukiman dengan pantai cukup jauh, sehingga sepeda menjadi sarana yang memudahkan kami wara-wiri di Pulau Tidung. Dengan membayar Rp17 ribu, kami sudah bisa bersepeda ria sampai pantat tepos seharian. Karena frekuensi wara-wiri kami dari penginapan-pantai-penginapan-panta cukup banyak, maka kami memutuskan menyewa sepeda selama dua hari. Hari pertama, kami menikmati suasana sore dengan berfoto-foto di sepanjang jembatan yang menghubungkan Tidung besar dan Tidung kecil. Kabarnya, jembatan ini bernama ‘Jembatan Cinta’.

Hari pertama, cuaca kurang bersahabat. Dari pagi hingga petang, tampak awan kelabu bernaung di atas Pulau Tidung. Untunglah hari kedua cuaca cukup cerah. Sangat cocok dengan agenda kami yang ingin bermain air. Snorkeling menjadi pilihan kami untuk bermain air. Awalnya kami ingin menyewa kapal sehingga kami bisa snorkeling di pulau-pulau sekitar Pulau Tidung. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya niat menyewa kapal kami urungkan. Akhirnya kami cukup bersnorkeling ria di sekitar Pulau Tidung Besar dan kecil.

Sekedar tips, ternyata snorkeling menggunakan kapal jauh lebih aman, ketimbang hanya berjalan di sekitar jembatan cinta. Sebabnya, banyak karang-karang yang mendekati permukaan, sehingga semakin mudah kami menabrak dan resiko celaka pun cukup besar. Ini terbukti salah seorang teman kami mendapat musibah, sepatu kataknya lepas, menginjak ikan berbisa, namanya Lepo. Oleh-oleh dari Tidung, ia dijahit kakinya dan mendapat pantangan beberapa makanan untuk beberapa bulan.

Selama dua jam kami wara-wiri di lautan, menyelam,tertawa, menyelam lagi. Cukup menyenangkan bisa melihat terumbu karang dan biota laut. Namun ya itu, karang-karang yang muncul ke permukaan cukup menghambat gerak kami, tidak sedikit yang kakinya tergores karang.

Puas bersnorkeling ria, beberapa dari kami ingin merasakan tantangan dan sensasi “bunuh diri”. Ya, lompat dari ketinggian sekitar 4 meter dari atas jembatan cinta. Banyak orang bilang “belum ke Tidung kalau belum loncat dari jembatan cinta”. Well, terserah apa kata mereka, saya sih ngga cukup nyali buat melakukannya. Lebih baik jadi tim dokumentasi anak-anak gila yang lompat dari atas jembatan. Toh pada akhirnya mereka menagih foto aksi bunuh diri mereka untuk jadi profpict di facebook. 😀

Image

Puas berenang-renang, berlompat-lompat kami pulang ke penginapan. Gowes lagi sepedanya, meskipun badan lelah seharian berenang di laut. Setelah berbilas, makan siang, dan istirahat, kami lanjut mengayuh sepda kami ke arah barat pulau. Ya, tidak lengkap rasanya berlibur ke pantai kalau tidak melihat sunset. Untung hari ini cukup cerah, sehingga kami pun mendapat beberapa foto sunset di Pantai Barat Pulau Tidung.

Foto-foto dengan sunset menjadi akhir kegiatan kami di Pulau Tidung. Malamnya kami siap-siap berkemas untuk pulang ke Jakarta. Lagi-lagi karena kapal yang tersedia hanya pada jam 7 pagi, mau tidak mau, kami mempersiapkan segalanya dari malam hari.

Esoknya, pukul 7 pagi rombongan berbondong- bondong ke dermaga, ternyata kali ini kapal yang membawa kami ke Muara Angke ukurannya lebih besar. Cukup nyaman untuk tidur atau pun duduk-duduk di atas kapal melihat matahari merangkak ke atas. Perjalanan pulang pun terasa lebih cepat, berangkat pukul 7.30 dan kami sampai di Muara Angke sekitar pukul 10 kurang.

Dari sini, sudah banyak abang-abang angkot yang menawarkan kendaraannya. Akhirnya kami sepakat untuk membayar Rp.16 ribu per orang sampai ke pul Primajasa di sekitar daerah UKI. Karena kebanyakan dari kami harus kembali ke habitat asal di Jatinangor, namun ada pula yang pulang ke sekitaran Jakarta dan Bogor. Apapun liburannya akan berkesan jika dipersiapkan selama jauh hari. Dan inilah 3 hari 2 malam setelah pergunjingan di notes facebook selama kurang lebih tiga minggu. Hasilnya, happy holiday!

Image

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s