SOLO trip

Masih dalam rangkaian JOGLO tanpa semar trip, kami meluangkan waktu satu hari untuk ke Solo. Sebenarnya ngga satu hari, karena kami baru memulai perjalanan pukul 12 siang. Rencananya kami akan menggunakan kereta Prambanan Expres, namun ternyata jadwal terakhir untuk pagi hari adalah pukul 10.30. Setengah kecewa kami pun mendapat info, ada kereta cepat lainnya yaitu KA Madiun Jaya 2 yang bisa mengantar kami sampai ke Stasiun Balapan Solo.
Tarifnya memang agak mahal (Rp 20 ribu) tapi cukup worth buat kereta nyaman dan superbersih ini
Image
#1st stop : Warung Selat Mbak Lies
Nah, ini kami kunjungi atas dasar hasrat lapar tak tertahankan. Setelah ketemu guide lokal alias temen sendiri di Solo, kami pun diajak mencicipi kuliner khas kota Surakarta. Meluncurlah kami ke Warung Selat Mbak Lies di Serengan Gg.II/42 Solo. Menurut mba mas di sana, warung mbak lies the one and only, alias ngga buka cabang.Rumah makan ini letaknya di salah satu gang dekat rumah penduduk. Dari luar nampak cat warna-warni dan hiasan keramik memenuhi warung mba lies. Saat itu sudah lewat jam makan siang, tapi pengunjungnya masih cukup ramai.

Image

Harga makanan di Warung Selat Mbak Lies ini cukup murah, sesuai sama kantong anak kuliahan. Untuk makanan harganya sekitar rp 8.000 – rp. 10.000, sedangkan beragam minuman mulai dari rp 3000 sampai rp 6000.

Setelah melihat lihat menu makanan, saya pun memutuskan untuk memesan selat bistik. Nah, apa sih selat itu? menurut percenahan, selat itu diserap dari bahasa asingnya Salad. Hampir mirip Salad, Selat pun isinya seperti sayur-sayuran yang dikasih bumbu mayonnaise. Sajian selat bistik merupakan lidah sapi yang diberi kuah semur, dihiasi selat di sisinya, ditambah potongan kentang goreng. Selain itu menu makanan andalan lainnya adalah selat rolade dan gado gado lontong.
Image
 #2nd stop : Pasar Triwindu
Pasar Triwindu letaknya di jalan Diponegoro Surakarta. Kami mamir kemari untuk menuntaskan rasa penasaran mas bro isan yang kepengen liat barang antik. Nah, sampai di sana benar saja, kami langsung dimanjakan dengan ratusa barang antik yang sarat dengan aura ke-jawa-an. Pasar ini menjual beragam pernah pernik, mulai koin kuno, jam, poster jadul, kain batik, hingga perabot antik jawa.

Untuk harga, tergantung kondisi dan umur barang. Semakin tua biasanya semakin mahal. Saya misalnya, nemu jam weker antik yang masih bisa berdering. Pedagang melepasnya dengan harga rp 50 ribu dan masih bisa di nego. Tapi entah mengapa saya ngga jadi membeli itu weker (jadi nyesel :/).

Pasar yang terdiri dua lantai ini berbentuk blok-blok, hampir tiap toko menjual barang yang hampir mirip. Nah, kalau kamu seorang kolektor barang antik atau lagi mencari barang etnik menghiasai interior rumah, pergilah ke Pasar Triwindu ini.

Image
Image
Image
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s